Selasa, 27 Juli 2010

kedahsyatan sedekah

Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala, dan melipatgandakan rezeki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Sedekah adalah penyubur pahala, penolak bala, dan pelipat ganda rezeki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Maha Kaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah!
Sahabat, betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah yang disertai dengan hati ikhlas, sampai-sampai Rasul sendiri membuat perbandingan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut.
Kemudian mereka bertanya, ‘Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?’.
Allah menjawab, ‘Ada, yaitu besi’.
Para malaikat pun kembali bertanya, ‘Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari besi?’.
Allah menjawab, ‘Ada, yaitu api’.
Bertanya kembali para malaikat, ‘Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari api?’.
Allah menjawab, ‘Ada, yaitu air’.
‘Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?’ tanya para malaikat.
Allah pun menjawab, ‘Ada, yaitu angin’.
Akhirnya para malaikat bertanya lagi, ‘Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?’.
Allah yang Maha Gagah menjawab, ‘Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya’.”

Senin, 26 Juli 2010

BOB SADINO

Bob Sadino (Lampung, 9 Maret 1933), atau akrab dipanggil om Bob, adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan. Ia adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat menggunakan kemeja lengan pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya. Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan.

Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.

Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia. Ia membawa serta 2 Mercedes miliknya, buatan tahun 1960-an. Salah satunya ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan sementara yang lain tetap ia simpan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri.

Pekerjaan pertama yang dilakoninya setelah keluar dari perusahaan adalah menyewakan mobil Mercedes yang ia miliki, ia sendiri yang menjadi sopirnya. Namun sayang, suatu ketika ia mendapatkan kecelakaan yang mengakibatkan mobilnya rusak parah. Karena tak punya uang untuk memperbaikinya, Bob beralih pekerjaan menjadi tukang batu. Gajinya ketika itu hanya Rp.100. Ia pun sempat mengalami depresi akibat tekanan hidup yang dialaminya.

Suatu hari, temannya menyarankan Bob memelihara ayam untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob tertarik. Ketika beternak ayam itulah muncul inspirasi berwirausaha. Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya. Ia mendapat ilham, ayam saja bisa berjuang untuk hidup, tentu manusia pun juga bisa.

Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari menjual beberapa kilogram telor. Dalam tempo satu setengah tahun, ia dan istrinya memiliki banyak langganan, terutama orang asing, karena mereka fasih berbahasa Inggris. Bob dan istrinya tinggal di kawasan Kemang, Jakarta, di mana terdapat banyak menetap orang asing.

Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, babu orang asing sekalipun. Namun mereka mengaca pada diri sendiri, memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, dari pribadi feodal menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob yang berambut perak, menjadi pemilik tunggal super market (pasar swalayan) Kem Chicks. Ia selalu tampil sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek.

Bisnis pasar swalayan Bob berkembang pesat, merambah ke agribisnis, khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun sayur mayur untuk konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu ia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah.

Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang.

Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang, rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. “Yang paling penting tindakan,” kata Bob.

Keberhasilan Bob tidak terlepas dari ketidaktahuannya sehingga ia langsung terjun ke lapangan. Setelah jatuh bangun, Bob trampil dan menguasai bidangnya. Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman, mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional.
Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain.

Sedangkan Bob selalu luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.

Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.

Anak Guru

Kembali ke tanah air tahun 1967, setelah bertahun-tahun di Eropa dengan pekerjaan terakhir sebagai karyawan Djakarta Lloyd di Amsterdam dan Hamburg, Bob, anak bungsu dari lima bersaudara, hanya punya satu tekad, bekerja mandiri. Ayahnya, Sadino, pria Solo yang jadi guru kepala di SMP dan SMA Tanjungkarang, meninggal dunia ketika Bob berusia 19.

Modal yang ia bawa dari Eropa, dua sedan Mercedes buatan tahun 1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Ketika itu, kawasan Kemang sepi, masih terhampar sawah dan kebun. Sedangkan mobil satunya lagi ditaksikan, Bob sendiri sopirnya.

Suatu kali, mobil itu disewakan. Ternyata, bukan uang yang kembali, tetapi berita kecelakaan yang menghancurkan mobilnya. ”Hati saya ikut hancur,” kata Bob. Kehilangan sumber penghasilan, Bob lantas bekerja jadi kuli bangunan. Padahal, kalau ia mau, istrinya, Soelami Soejoed, yang berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, bisa menyelamatkan keadaan. Tetapi, Bob bersikeras, ”Sayalah kepala keluarga. Saya yang harus mencari nafkah.”

Untuk menenangkan pikiran, Bob menerima pemberian 50 ekor ayam ras dari kenalannya, Sri Mulyono Herlambang. Dari sini Bob menanjak: Ia berhasil menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur sistem hidroponik. Lalu ada Kem Food, pabrik pengolahan daging di Pulogadung, dan sebuah ”warung” shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta. Catatan awal 1985 menunjukkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40 sampai 50 ton daging segar, 60 sampai 70 ton daging olahan, dan 100 ton sayuran segar.

”Saya hidup dari fantasi,” kata Bob menggambarkan keberhasilan usahanya. Ayah dua anak ini lalu memberi contoh satu hasil fantasinya, bisa menjual kangkung Rp 1.000 per kilogram. ”Di mana pun tidak ada orang jual kangkung dengan harga segitu,” kata Bob.

Om Bob, panggilan akrab bagi anak buahnya, tidak mau bergerak di luar bisnis makanan. Baginya, bidang yang ditekuninya sekarang tidak ada habis-habisnya. Karena itu ia tak ingin berkhayal yang macam-macam.

Haji yang berpenampilan nyentrik ini, penggemar berat musik klasik dan jazz. Saat-saat yang paling indah baginya, ketika shalat bersama istri dan dua anaknya.

Nama :
Bob Sadino
Lahir :
Tanjungkarang, Lampung, 9 Maret 1933
Agama :
Islam

Pendidikan :
-SD, Yogyakarta (1947)
-SMP, Jakarta (1950)
-SMA, Jakarta (1953)

Karir :
-Karyawan Unilever (1954-1955)
-Karyawan Djakarta Lloyd, Amsterdam dan Hamburg (1950-1967)
-Pemilik Tunggal Kem Chicks (supermarket) (1969-sekarang)
-Dirut PT Boga Catur Rata
-PT Kem Foods (pabrik sosis dan ham)
-PT Kem Farms (kebun sayur)

Alamat Rumah:
Jalan Al Ibadah II/12, Kemang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp: 793981

Alamat Kantor :
Kem Chicks Jalan Bangka Raya 86, Jakarta Selatan Telp: 793618

Referensi :

- http://pengusahamuda.wordpress.com/biografi/

Kamis, 22 Juli 2010

Kisah Wortel, Telur, dan Kopi

Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.
Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api.
Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api.
Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.
Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?”"Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras.
Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas. Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?”
Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi ‘kesulitan’ yang sama, melalui proses perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.
Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut.
“Kamu termasuk yang mana?,” tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?” Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.”
“Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan maka hatimu menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?.”
“Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat.”
“Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.”
“Ada raksasa dalam setiap orang dan tidak ada sesuatupun yang mampu menahan raksasa itu kecuali raksasa itu menahan dirinya sendiri” 

Rabu, 21 Juli 2010

ILMUAN BARAT BICARA TENTANG ISLAM

Seorang ilmuwan dari Italia Kenneth
Edward George berkata,
“ Saya sudah mengkaji dengan sangat
teliti agama-agama terdulu dan agama
modern dewasa ini. Kesimpulannya
adalah bahwa Islam agama langit yang
yang benar. Kitab Suci ini mencakup
kebutuhan materi dan immateri bagi
manusia. Agama ini membentuk akhlak
yang baik dan menjaga rohani agar
tetap sehat. ”
Profesor Inggris Mountaghmiri Watts
berkata,
“ Apa yang dipaparkan Al Qur’an
tentang realitas dan fenomena alam
yang sempurna menurut saya adalah di
antara kelebihan dan keistimewaan
Kitab ini. Yang jelas semua temuan dan
ilmu pengatahuan yang
didokumentasikan dewasa ini, tidak
mampu menandingi Al Qur’an.”
Sejarawan Italia, Brands Johny Burkz
mengatakan,
“ Kesejahteraan dan kepemimpinan
menjauh dari umat Islam dikarenakan
mereka tidak mau mengikuti petunjuk
Al Qur ’an dan mengamalkan hukum
dan undang-undang-nya. Padahal
sebelumnya sejarah telah mencatat
bahwa generasi awal Islam meraih
kejayaan, kemenangan, dan kebesaran.
Mmusuh-musuh Islam tau rahasia ini,
sehingga mereka menyerang dari sisi
ini. Ya, kondisi kehidupan umat Islam
sekarang ini suram, karena tidak
pedulinya umat ini terhadap Kitabnya,
bukan karena ada kekurangan dalam Al
Qur ’an atau Islam secara umum. Yang
obyektif adalah tidak benar
menganggat sisi negatif dengan
menghakimi ajaran Islam yang suci.”
Peneliti Prancis Gul Labum menyeru
orang Eropa,
“ Wahai manusia, kajilah Al Qur’an
secara mendalam, sampai kalian
menemukan hakekat kebenarannya,
karena setiap ilmu pengetahuan dan
seni-budaya yang pernah dicapai oleh
bangsa Arab, pondasinya adalah Al
Qur ’an. Hendaknya setiap penduduk
dunia, dari beragam warna dan bahasa
mau melihat secara obyektif kondisi
dunia zaman awal. Mengkaji lembaran-
lembaran ilmu pengetahuan dan
penemuan sebelum Islam. Maka kalian
akan tahu bahwa ilmu pengetahuan dan
penemuan tidak pernah sampai pada
penduduk bumi kecuali setelah
ditemukan dan disebarluaskan oleh
kaum muslimin yang mereka eksplorasi
dari Al Qur ’an. Ia laksana lautan
pengetahuan yang mengalir di jutaan
anak sungai. Al Qur ’an tetap hidup, dan
setiap orang mampu meneguk sejuknya
sesuai dengan kesungguhan dan
kemampuannya. ”
Ahli filsafat dari Prancis, Pranco Mari
Pulter, menjelaskan perbedaan antara
Injil dan Al Qur ’an,
”Kami yakin, jika disodorkan Al Qur’an
dan Injil kepada seseorang yang tidak
beragama, pasti orang tersebut akan
memilih yang pertama, karena Al
Qur ’an mengetengahkan pemikiran
yang cocok dengan akal sehat. Boleh
jadi tidak ada undang-undang yang
lebih detail tentang masalah perceraian,
kecuali undang-undang dan hukum
yang telah di gariskan Al Qur ’an
tentang masalah ini.”
Seorang ilmuwan dari Inggris Fard
Ghayum, Guru Besar Universitas London
mengatakan,
” Al Qur’an adalah kitab mendunia yang
memiliki keistimewaan sastra yang
tinggi, yang terjemahnya saja tidak bisa
mewakili tingginya sastra aslinya.
Karena lagunya berirama khusus,
keindahannya mengagumkan, dan
pengaruhnya yang luar bisa terhadap
yang mendengarkan. Banyak kaum
nashrani Arab yang terpengaruh gaya
bahasa dan sastranya. Begitu juga
kaum orientalis, banyak di antara
mereka yang menerima Al Qur ’an.
Ketika dibacakan Al Qur’an, kami orang-
orang Nashrani terpengaruh, laksana
sihir yang menembus jiwa kami, kami
merasakan ungakapnnya yang indah,
hukumnya yang orisinil. Keistimewaan
seperti ini yang menjadikan seseorang
merasa terpuaskan, dan bahwa Al
Qur’an tidak mungkin ada yang mampu
menandinginya.”
Knett Grigh, Guru Besar Universitas
Cambridge memberi kesaksian,
” Tidak akan mampu seseorang
sepanjang empat belas abad yang lalu,
sejak diturunkannya Al Qu ’ran sampai
sekarang ini, yang mampu membuat
seperti ayat Al Qur ’an, satu ayat
sekalipun. Karena Al Qur’an bukan kitab
yang dikhususkan untuk zaman
tertentu, bahkan Al Qur ’an ini alami
yang akan terus berlangusng sepanjang
zaman. Meskipun dunia dan kehidupan
ini berubah, namun setiap manusia
memungkinkan menjadikan al Qur ’an
sebagai pedoman hidupnya. Mengapa
Al qur ’an lebih unggul dan menjadi
pedoman hidup manusia sepanjang
masa? Karena Al qur ’an mencakup hal-
hal yang kecil maupun urusan yang
besar. Tidak ada sesuatu yang tidak
diatur oleh Al qur ’an. Saya yakin, bahwa
Al Qur’an mampu mempengaruhi orang
Barat, dengan syarat, Al Qur’an
dibacakan dengan bahasa aslinya,
karena terjemahnya tidak mampu
memberi pengaruh kejiwaan dan
rohani, berbeda dengan bacaan aslinya
yang menggetarkan jiwa, meluluhkan
qalbu. ” (it/ut)

(AL-QUR'AN dan jendral adolf roberto

 
Suatu petang, di Tahun 1525. Penjara tempat
tahanan orang-orang di situ
terasa hening mencengkam. Jeneral
Adolf Roberto, pemimpin penjara yang
terkenal bengis, tengah memeriksa
setiap kamar tahanan.
Setiap banduan penjara
membongkokkan badannya rendah-
rendah ketika ‘algojo penjara’ itu
melintasi di hadapan mereka. Kerana
kalau tidak, sepatu ‘boot keras’ milik
tuan Roberto yang fanatik Kristian itu
akan mendarat di wajah mereka.
Roberto marah besar ketika dari sebuah
kamar tahanan terdengar seseoran
mengumandangkan suara-suara yang
amat ia benci. “Hai…hentikan suara
jelekmu! Hentikan…!” Teriak Roberto
sekeras-kerasnya sambil
membelalakkan mata. Namun apa yang
terjadi? Laki-laki di kamar tahanan tadi
tetap saja bersenandung dengan
khusyu ’nya. Roberto bertambah berang.
Algojo penjara itu menghampiri kamar
tahanan yang luasnya tak lebih sekadar
cukup untuk satu orang.
Dengan marah ia menyemburkan
ludahnya ke wajah tua sang tahanan
yang keriput hanya tinggal tulang. Tak
puas sampai di situ, ia lalu menyucuh
wajah dan seluruh badan orang tua
renta itu dengan rokoknya yang
menyala. Sungguh ajaib… Tak
terdengar secuil pun keluh kesakitan.
Bibir yang pucat kering milik sang
tahanan amat galak untuk meneriakkan
kata Rabbi, wa ana ‘abduka… Tahanan
lain yang menyaksikan kebiadaban itu
serentak bertakbir sambil berkata,
“ Bersabarlah wahai ustaz…InsyaALlah
tempatmu di Syurga.”
Melihat kegigihan orang tua yang
dipanggil ustaz oleh sesama tahanan,
‘ algojo penjara’ itu bertambah
memuncak marahnya. Ia
memerintahkan pegawai penjara untuk
membuka sel, dan ditariknya tubuh
orang tua itu keras-kerasnya sehingga
terjerembab di lantai.
“Hai orang tua busuk! Bukankah
engkau tahu,  aku tidak suka bahasa
hinamu itu?! Aku tidak suka apa-apa
yang berhubung dengan agamamu!
Ketahuilah orang tua dungu, bumi
Sepanyol ini kini telah berada dalam
kekuasaan bapa kami, Tuhan Jesus.
Anda telah membuat aku benci dan
geram dengan ‘suara-suara’ yang
seharusnya tidak didengari lagi di sini.
Sebagai balasannya engkau akan
kubunuh. Kecuali, kalau engkau mahu
minta maaf dan masuk agama kami. ”
Mendengar “khutbah” itu orang tua itu
mendongakkan kepala, menatap
Roberto dengan tatapan yang tajam
dan dingin. Ia lalu berucap,
“Sungguh…aku sangat merindukan
kematian, agar aku segera dapat
menjumpai kekasihku yang amat
kucintai, ALlah. Bila kini aku berada di
puncak kebahagiaan karena akan
segera menemuiNya, patutkah aku
berlutut kepadamu, hai manusia busuk?
Jika aku turuti kemahuanmu, tentu aku
termasuk manusia yang amat bodoh. ”
Sejurus sahaja kata-kata itu terhenti,
sepatu lars Roberto sudah mendarat di
wajahnya. Laki-laki itu terhuyung.
Kemudian jatuh terkapar di lantai
penjara dengan wajah berlumuran
darah. Ketika itulah dari saku baju
penjaranya yang telah lusuh, meluncur
sebuah ‘buku kecil’. Adolf Roberto
berusaha
memungutnya. Namun tangan sang
Ustaz telah terlebih dahulu mengambil
dan menggenggamnya erat-erat.
“ Berikan buku itu, hai laki-laki dungu!”
bentak Roberto.
“Haram bagi tanganmu yang kafir dan
berlumuran dosa untuk menyentuh
barang suci ini !”ucap sang ustaz
dengan tatapan menghina pada
Roberto. Tak ada jalan lain, akhirnya
Roberto mengambil jalan paksa untuk
mendapatkan buku itu. Sepatu lars
seberat dua kilogram itu ia gunakan
untuk menginjak jari-jari tangan sang
ustaz yang telah lemah.
Suara gemeretak tulang yang patah
terdengar menggetarkan hati. Namun
tidak demikian bagi Roberto. Laki-laki
bengis itu malah merasa bangga
mendengar gemeretak tulang yang
terputus. Bahkan ‘algojo penjara’ itu
merasa lebih puas lagi ketika melihat
tetesan darah mengalir dari jari-jari
musuhnya yang telah hancur.
Setelah tangan tua itu tak berdaya,
Roberto memungut buku kecil yang
membuatnya baran. Perlahan Roberto
membuka sampul buku yang telah
lusuh. Mendadak algojo itu termenung.
“Ah…seperti aku pernah mengenal buku
ini. Tetapi bila? Ya, aku pernah
mengenal buku ini. ”
Suara hati Roberto bertanya-tanya.
Perlahan Roberto membuka lembaran
pertama itu. Pemuda berumur tiga
puluh tahun itu bertambah terkejut
tatkala melihat tulisan-tulisan “aneh”
dalam buku itu. Rasanya ia pernah
mengenal tulisan seperti itu dahulu.
Namun, sekarang tak pernah dilihatnya
di bumi Sepanyol.
Akhirnya Roberto duduk di samping
sang ustaz yang sedang melepaskan
nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis
sang algojo kini diliputi tanda tanya
yang dalam. Mata Roberto rapat
terpejam. Ia berusaha keras mengingat
peristiwa yang dialaminya sewaktu
masih kanak-kanak.
Perlahan, sketsa masa lalu itu
tergambar kembali dalam ingatan
Roberto. Pemuda itu teringat ketika
suatu petang di masa kanak-kanaknya
terjadi kekecohan besar di negeri
tempat kelahirannya ini. Petang itu ia
melihat peristiwa yang mengerikan di
lapangan Inkuisisi (lapangan tempat
pembantaian kaum muslimin di
Andalusia). Di tempat itu tengah
berlangsung pesta darah dan nyawa.
Beribu-ribu jiwa tak berdosa gugur di
bumi Andalusia.
Di hujung kiri lapangan, beberapa puluh
wanita berhijab (jilbab) digantung pada
tiang-tiang besi yang terpancang tinggi.
Tubuh mereka bergelantungan tertiup
angin petang yang kencang, membuat
pakaian muslimah yang dikenakan
berkibar-kibar di udara. Sementara, di
tengah lapangan ratusan pemuda Islam
dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang
salib, hanya karena tidak mahu
memasuki agama yang dibawa oleh
para rahib.
Seorang kanak- kanak laki-laki comel
dan tampan, berumur sekitar tujuh
tahun, malam itu masih berdiri tegak di
lapangan Inkuisisi yang telah senyap.
Korban-korban kebiadaban itu telah
syahid semua. Kanak kanak comel itu
melimpahkan airmatanya menatap
sang ibu yang terkulai lemah di tiang
gantungan. Perlahan-lahan kanak –
kanak itu mendekati tubuh sang ummi
yang tak sudah bernyawa, sambil
menggayuti abinya. Sang anak itu
berkata dengan suara parau, “Ummi,
ummi, mari kita pulang. Hari telah
malam. Bukankah ummi telah berjanji
malam ini akan mengajariku lagi
tentang alif, ba, ta, tsa ….? Ummi, cepat
pulang ke rumah ummi…”
Budak kecil itu akhirnya menangis
keras, ketika sang ummi tak jua
menjawab ucapannya. Ia semakin
bingung dan takut, tak tahu apa yang
harus dibuat . Untuk pulang ke rumah
pun ia tak tahu arah. Akhirnya budak itu
berteriak memanggil bapaknya, “Abi…
Abi…Abi…” Namun ia segera terhenti
berteriak memanggil sang bapa ketika
teringat petang kelmarin bapanya
diseret dari rumah oleh beberapa orang
berseragam.
“Hai…siapa kamu?!” jerit segerombolan
orang yang tiba-tiba mendekati budak
tersebut. “Saya Ahmad Izzah, sedang
menunggu Ummi…” jawabnya
memohon belas kasih. “Hah…siapa
namamu budak, cuba ulangi!” bentak
salah seorang dari mereka. “Saya
Ahmad Izzah…” dia kembali menjawab
dengan agak kasar. Tiba-tiba “Plak!
sebuah tamparan mendarat di pipi si
kecil. “Hai budak…! Wajahmu cantik
tapi namamu hodoh. Aku benci
namamu. Sekarang kutukar namamu
dengan nama yang lebih baik. Namamu
sekarang ‘Adolf Roberto’…Awas! Jangan
kau sebut lagi namamu yang buruk itu.
Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu,
nanti akan kubunuh !” ancam laki-laki
itu.”
Budak itu mengigil ketakutan, sembari
tetap menitiskan air mata. Dia hanya
menurut ketika gerombolan itu
membawanya keluar lapangan Inkuisisi.
Akhirnya budak tampan itu hidup
bersama mereka.
Roberto sedar dari renungannya yang
panjang. Pemuda itu melompat ke arah
sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya
baju penjara yang melekat pada tubuh
sang ustaz. Ia mencari-cari sesuatu di
pusat laki-laki itu. Ketika ia menemukan
sebuah ‘tanda hitam’ ia berteriak
histeria, “Abi…Abi…Abi…” Ia pun
menangis keras, tak ubahnya seperti
Ahmad Izzah dulu. Fikirannya terus
bergelut dengan masa lalunya. Ia masih
ingat betul, bahwa buku kecil yang ada
di dalam genggamannya adalah Kitab
Suci milik bapanya, yang dulu sering
dibawa dan dibaca ayahnya ketika
hendak menidurkannya. Ia jua ingat
betul ayahnya mempunyai ‘tanda
hitam’ pada bahagian pusat.
Pemuda bengis itu terus meraung dan
memeluk erat tubuh tua nan lemah.
Tampak sekali ada penyesalan yang
amat dalam atas tingkah-lakunya
selama ini. Lidahnya yang sudah
berpuluh-puluh tahun lupa akan Islam,
saat itu dengan spontan menyebut,
“ Abi… aku masih ingat alif, ba, ta, tha…”
Hanya sebatas kata itu yang masih
terakam dalam benaknya.
Sang ustaz segera membuka mata
ketika merasakan ada tetesan hangat
yang membasahi wajahnya. Dengan
tatapan samar dia masih dapat melihat
seseorang yang tadi menyeksanya
habis-habisan kini sedang memeluknya.
“Tunjuki aku pada jalan yang telah
engkau tempuhi Abi, tunjukkan aku
pada jalan itu …” Terdengar suara
Roberto meminta belas.
Sang ustaz tengah mengatur nafas
untuk berkata-kata, lalu memejamkan
matanya. Air matanya pun turut
berlinang. Betapa tidak, jika setelah
puluhan tahun, ternyata ia masih
sempat berjumpa dengan buah hatinya,
di tempat ini. Sungguh tak masuk akal.
Ini semata-mata bukti kebesaran Allah.
Sang Abi dengan susah payah masih
boleh berucap. “Anakku, pergilah
engkau ke Mesir. Di sana banyak
saudaramu. Katakan saja bahwa engkau
kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah
Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di
negeri itu, ” Setelah selesai berpesan
sang ustaz menghembuskan nafas
terakhir dengan berbekal kalimah indah
“ Asyahadu anla IllaahailALlah, wa
asyahadu anna Muhammad
Rasullullah …’. Beliau pergi dengan
menemui Rabbnya dengan tersenyum,
setelah sekian lama berjuang dibumi
yang fana ini.
Kini Ahmah Izzah telah menjadi seorang
alim di Mesir. Seluruh hidupnya
dibaktikan untuk agamanya, ‘Islam,
sebagai ganti kekafiran yang di masa
muda sempat disandangnya. Banyak
pemuda Islam dari berbagai penjuru
berguru dengannya …”
Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy.
Benarlah firman Allah…
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan
lurus kepada agama ALlah, tetaplah
atas fitrah ALlah yang telah
menciptakan manusia menurut
fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas
fitrah ALlah. Itulah agama yang lurus,
tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui.” (QS>30:30)
Syeikh Al-Islam Turki yang terakhir iaitu
As-Syeikh Mustafa Al Basri telah
menegaskan dalam bukunya …
Sekularisma yang memisahkan ajaran
agama dengan kehidupan dunia
merupakan jalan paling mudah untuk
menjadi murtad.

Dua Kalimat yang Mengubah Hidup

Seorang penulis buku dan trainer, Gerry Robert, menemui seorang ahli pemikiran dunia Bob Proctor. Gerry Robert meskipun seorang trainer yang sudah memiliki penghasilan besar, tetap saja mau belajar kepada orang lain. Ada dua kalimat menyakitkan yang didapat Gery saat bertemu Bob Proctor, dan 2 kalimat inilah yang mengubah hidup Gery selamanya.
Diawali dengan sebuah pertanyaan dari Bob Proctor
“Berapa penghasilan terbesar yang pernah kamu capai?”
Dengan bangganya, Gerry menyebutkan sebuah angka dimana angka tersebut termasuk besar.
“Saya memiliki penghasilan $100.000 pertahun.”
Bob Proctor mengatakan,
“Itu Sampah…”
Tentu saja Gerry kaget bukan kepalang dan mencoba membela diri. Bagaimana mungkin penghasilan sebesar itu disebut sampah? Padahal diantara teman-teman Gerry tidak ada yang memiliki penghasilan sebesar itu.
Kata Bob Proctor,
“Penghasilan itu seharusnya bisa kamu dapatkan hanya dalam 1 bulan!”
Tentu saja Gerry membela diri dengan berargumen
“Saya masih pemula pak, belum sehebat Anda. Maka penghasilan sebesar itu sudah hebat untuk saya.”
Apa kata Bob Proctor?
“Kamu brengsek!”
Bob melanjutkan,
“Siapa pun yang menolak ide tersebut memiliki masalah mental. Saya menghasilkan uang sebesar itu ($100.000/bulan) 15 tahun yang lalu. Dan kamu malah melawan saya. Orang seperti itu saya sebut brengsek.”
Gerry pun terdiam. Namun bukan berarti ngambek atau membenci Bob. Tetapi perkataan itu menyadarkannya akan potensi sebenarnya.
Hasilnya?
Gerry pun menjadi seorang milyuner. Penghasilan Gerry menjadi $1.000.000.000.
[Dikutip dan diterjemahkan bebas dari Millionaire Mindset: How Ordinary People Can Create Extraordinary Income. Karya Gerry Robert]

Senin, 19 Juli 2010

Kata Mutiara

Kata Mutiara

Semakin Anda memahami lebih banyak tentang dunia di sekitar Anda, semakin bergairah dan penasaran terhadap kenyataan hidup dalam hidup Anda.

Gairah adalah salah satu elemen pokok yang meringankan upaya dan mengubah kegiatan-kegiatan yang biasa-biasa saja menjadi suatu pekerjaan yang dapat dinikmati.
Semakin besar “Mengapa” Anda akan semakin besar energi yang mendorong Anda untuk meraih sukses.
Mimpi tidak hanya membantu Anda berhadapan dengan kegagalan, tetapi mereka juga memotivasi Anda secara konstan.
Mimpi masa kini adalah kenyataan hari esok.
Anda bisa, jika Anda berpikir bisa, selama akal mengatakan bisa. Batasan apakah sesuatu masuk akal atau tidak, kita lihat saja orang lain, jika orang lain telah melakukannya atau telah mencapai impiannya, maka impian tersebut adalah masuk akal.
Menuliskan tujuan akan sangat membantu dalam menjaga alasan melakukan sesuatu.
Apakah kita bisa untuk mengemban misi kita? Insya Allah kita bisa, karena Allah Mahatahu, Allah tahu sampai dimana potensi dan kemampuan kita. Jika kita tidak merasa mampu berarti kita belum benar-benar mengoptimalkan potensi kita.
Jika target obsesi itu baik, maka memiliki obsesi bukan hanya baik, tetapi harus. Karena motivasi dari sebuah obsesi sangat kuat.
Untuk menjadi sukses, Anda harus memutuskan dengan tepat apa yang Anda inginkan, tuliskan dan kemudian buatlah sebuah rencana untuk mencapainya.
Bisakah kita meraih sukses yang lebih besar lagi?
Merumuskan Visi dan Misi adalah salah satu bentuk dalam mengambil keputusan, bahkan pengambilan keputusan yang cukup fundamental. Visi dan Misi Anda akan menjiwai segala
gerak dan tindakan di masa datang.

Jangan takut dengan gagalnya meraih visi, kegagalan meraih visi sebenarnya bukan suatu kegagalan, tetapi merupakan keberhasilan yang Anda tempuh meski tidak sepenuhnya.
Visi itulah yang akan menuntun perjalanan hidup Anda.
Menciptakan kebiasaan baru adalah salah satu dari kunci sukses. Jika anda ingin sukses Anda harus mulai menciptakan kebiasaan-kebiasaan yang akan membawa Anda kepada kesuksesan.
Jika Anda ingin menang— dalam bisnis, karir, pendidikan, olah raga, dsb— maka Anda harus memiliki kebiasaan-kebiasaan seorang pemenang pula.
Jika Anda ingin suatu kehidupan yang berbeda, buatlah keputusan yang berbeda juga.
Tengoklah kembali perjalanan Anda saat ini, akan menuju kemana? Apakah ke arah yang lebih baik, atau ke arah yang lebih buruk, atau tetap saja seperti saat ini? Tetapkanlah sebuah putusan dan jalanilah menuju konsekuensinya.
Potensial pilihan Anda begitu melimpah, keputusan Anda dapat saja merubah hidup Anda secara dramatis dalam waktu singkat.
Hanya satu motivasi yang ada, yaitu Allah. Adapun motivasi lainnya harus dalam rangka “karena dan/atau untuk” Allah.
sumber : http://www.motivasi-islami.com/

Minggu, 18 Juli 2010

Busuknya kebencian

Busuknya kebencian

Seorang Ibu Guru taman kanak-kanak (TK) mengadakan"permainan".
Ibu Gurumenyuruh tiap² muridnya membawa kantong plastiktransparan 1 buah dankentang. Masing² kentang tersebut diberi namaberdasarkan nama orang yangdibenci, sehingga jumlah kentangnya tidak ditentukanberapa ... tergantungjumlah orang² yang dibenci.

Pada hari yang disepakati masing² murid membawakentang dalam kantongplastik. Ada yang berjumlah 2, ada yang 3 bahkan adayang 5. Sepertiperintah guru mereka tiap² kentang diberi nama sesuainama orang yangdibenci. Murid² harus membawa kantong plastik berisikentang tersebutkemana saja mereka pergi, bahkan ke toilet sekalipun,selama 1 minggu.

Hari berganti hari, kentang² pun mulai membusuk,murid² mulai mengeluh,apalagi yang membawa 5 buah kentang, selain beratbaunya juga tidak sedap.Setelah 1 minggu murid² TK tersebut merasa lega karenapenderitaan merekaakan segera berakhir.

Ibu Guru : "Bagaimana rasanya membawa kentang selama 1minggu ?"

Keluarlah keluhan dari murid² TK tersebut, padaumumnya mereka tidak merasanyaman harus membawa kentang² busuk tersebut kemanapun mereka pergi. Gurupun menjelaskan apa arti dari "permainan" yang mereka lakukan.

Ibu Guru : "Seperti itulah kebencian yang selalu kitabawa² apabila kitatidak bisa memaafkan orang lain. Sungguh sangat tidakmenyenangkan membawakentang busuk kemana pun kita pergi. Itu hanya 1minggu. Bagaimana jikakita membawa kebencian itu seumur hidup ? Alangkahtidak nyamannya ..."

Sabtu, 17 Juli 2010

HAK UNTUK BERBAHAGIA – Mario Teguh Golden Ways

Sahabat-sahabat saya yang hatinya baik......
Kebahagiaan adalah hak. Dan seperti semua hak, kitalah yang diharapkan datang menjemputnya.
Di dalam maklumat mengenai hak kita bagi kehidupan yang baik – ada perintah untuk memantaskan diri bagi tingkat-tingkat kebahagiaan yang naik.
Lebih jauh, kita juga diminta untuk menerima tugas yang harus diemban oleh semua yang telah diberkati dengan kebahagiaan.
Karena,
Bersama semua hak, ada tanggung-jawab.
Dan tanggung-jawab bagi mereka yang dibahagiakan, adalah membahagiakan saudaranya.
Maka orang yang tidak ingin tertunda kebahagiaannya, dia harus mendahulukan tercapainya kebahagiaan orang lain.
………..
Sahabat terkasih,
Marilah kita terima dengan ikhlas, bahwa
Kebahagiaan adalah masalah keputusan.
Hidup yang berbahagia adalah untaian dari keputusan-keputusan untuk berbahagia, dari satu waktu ke waktu berikutnya.
Maka putuskanlah untuk berbahagia, karena dengannya semua pikiran, perasaan, dan tindakan Anda akan berfokus pada yang membahagiakan.
Tetapi, seperti semua keputusan – ia sering dikerdilkan oleh tidak cukupnya ketegasan.
Keputusan yang berdampak adalah keputusan yang tegas.
Dan ketegasan untuk berbahagia datang dari keikhlasan untuk berpihak kepada yang membahagiakan.
Maka tegaslah untuk memutuskan bahwa:
Waktu terbaik untuk berbahagia adalah sekarang.
Tempat terbaik untuk berbahagia adalah di sini.
Dan cara terbaik untuk berbahagia adalah membahagiakan orang lain.
Dan yang berikut adalah undangan bagi dia yang hampir menerima kekalahan dalam upayanya untuk menjadi pribadi yang berbahagia;
Jika kita belum mampu merasa bahagia,
marilah kita hidup dengan cara yang menjadikan kita pantas untuk berbahagia.
Karena,
Tujuan hidup kita bukanlah untuk menjadi berbahagia.
Tujuan hidup kita adalah untuk menjadi sebab bagi kebahagiaan,
bagi diri sendiri dan bagi sebanyak mungkin orang lain.
Dan yang ini sangat penting,
Sahabat-sahabat saya yang hatinya ranum bagi pemuliaan,
Marilah kita hidup untuk membahagiakan sebanyak mungkin orang lain, agar kita dijauhkan dari kecenderungan untuk berlemah diri dalam kesedihan.
Perhatikanlah,
Orang yang hidup hanya untuk dirinya sendiri – lebih mudah untuk merasa sedih dan tidak berguna.
Marilah kita melibatkan diri dalam kesibukan kemanusiaan untuk
mengeluarkan saudara kita yang terkungkung dalam kelemahan, membebaskan mereka yang terjepit dalam penderitaan,
dan menegakkan mereka yang terbongkokkan oleh kemiskinan.
Dan untuk menutup pembicaraan yang sebetulnya tidak akan bisa ditutup ini, karena keharusan untuk menjadi sebab bagi kebahagiaan saudara-saudara kita berlaku sepanjang hayat kita,
ini adalah yang dipesankan bagi kita:
Perasaan kita ditentukan oleh apa yang kita kerjakan dan yang kita hindari. Karena, tidak mungkin bagi kita untuk berbahagia dalam menghindari melakukan yang baik.
Maka janganlah hindari pikiran yang baik, perasaan yang baik, dan terutama jangan hindari tindakan yang baik.
Jika kebahagiaan hidup ini penting bagi Anda dan mereka yang Anda cintai;
Muliakanlah kehidupan, muliakan setiap jiwa yang Anda sentuh,
lalu perhatikan apa yang terjadi.
Sahabat saya yang hatinya mulia,
Mudah-mudahan tulisan sederhana ini, yang tidak mungkin mewakili semua bahasan yang tadi kita lalui bersama dalam MTGW – HAK UNTUK BERBAHAGIA, dapat mendampingi kesadaran Anda dalam membangun hasil-hasil yang membahagiakan di hari-hari mendatang.
Terima kasih yang dalam saya sampaikan kepada rekan-rekan yang petang tadi hadir untuk bersama-sama rekan-rekan MT Super Crew dan super crew dari Metro TV, memastikan keberhasilan dari program taping MTGW – REAKSI PENGUBAH HIDUP, dan MTGW Live – HAK UNTUK BERBAHAGIA.
Sampai kita bertemu lagi dalam kesempatan super berikutnya.
Mohon disampaikan salam sayang dari Ibu Linna dan saya, untuk keluarga Anda tercinta.
Terima kasih dan salam super,
Mario Teguh
Founder | MTSuperClub | 081-211-56900 | For The Happiness Of Others | Jakarta
.
Note: Taken from Mario Teguh’s Facebook Page.

Jumat, 16 Juli 2010

Apakah visi sukses kita layak dimata Tuhan hingga pada akhirnya Dia memiliki alasan untuk mewujudkan itu semua?

Hampir semua orang ketika ditanya “Kenapa Harus Saya Yang Jadi Orang Sukses”, selalu memberikan jawaban bahwa dirinya layak untuk menjadi orang sukses. Layak karena memiliki kapasitas diri yang oke sebagai efek dari pengembangan diri yang senantiasa dilakukannya. Tapi, maaf itu adalah penilaian diri kita sendiri. Pernahkah kita berpikir bagaimana Tuhan menilai kelayakan kita untuk menjadi orang sukses? Apakah visi sukses kita layak dimata Tuhan hingga pada akhirnya Dia memiliki alasan untuk mewujudkan itu semua?
Mari kita coba merenung sedikit lewat perumpamaan sederhana ini :
Bayangkan Anda memiliki seorang anak berusia 7 tahun. Bagi yang belum punya cukup dibayangkan saja. Suatu hari, anak Anda tiba-tiba meminta uang sejumlah Rp.500.000 kepada Anda. Kira-kira apakah Anda akan langsung memberikannya?
Saya kira siapapun orang tuanya, tidak akan begitu saja memberikan uang sebesar 500ribu kepada anak kecil berusia 7 tahun begitu saja. Biasanya, kita akan cenderung menanyakan terlebih dahulu, “untuk apa uang tersebut akan digunakan?”. Dalam kasus ini ada 4 kemungkinan yang akan terjadi :
  • Ketika anak tidak menjawab pertanyaan itu, apakah Anda akan memberikan uang tersebut? TIDAK
  • Ketika jawaban si anak tidak jelas (ragu-ragu atau agak mencurigakan), apakah Anda akan memberikan uang tersebut? TIDAK.
  • Ketika jawaban si anak jelas, namun untuk kegiatan atau hal yang tidak baik apakah Anda akan memberikan uang tersebut? TIDAK
  • Ketika jawaban si anak jelas dan memang uang tersebut digunakan untuk hal yang benar apakah Anda akan memberikannya? YA, dengan pengawasan tentunya agar tidak disalahgunakan.
Kasusnya hampir sama ketika Anda meminta dalam setiap doa yang dipanjatkan kepada Tuhan untuk dijadikan orang sukses. Kecenderungan kita semua, cuma meminta dan meminta. Jarang sekali kita meluangkan waktu untuk merenungkan apa tujuan dari semua kesuksesan itu? Apakah untuk kesenangan pribadi semata, atau menjadi kebaikan bagi orang-orang yang ada di sekitar kita?
Rasulullah SAW pernah bersabda yang kurang lebih intinya,
sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.
Sering mendengarnya? Sekarang coba kita hubungkan dengan visi sukses kita sebelumya. Apakah visi sukses itu hanya menyangkut soal “saya, saya, dan saya?” Ataukah dalam visi sukses itu, ada semangat untuk berbagi, semangat untuk memberikan manfaat yang banyak kepada orang lain, semangat untuk menjadi “sebaik-baik manusia”? Karena bisa jadi ini yang menghambat jalan sukses kita.
Sesungguhnya Allah itu amat sayang dengan kita. Dia ingin kita menjadi manusia yang terbaik. Manusia yang membawa banyak manfaat bagi manusia yang lainnya. Makanya yang sering sukses justru mereka yang punya visi menjadi orang yang bermanfaat.
Mari berandai-andai. Jika sebelum diberi kesuksesan yang besar saja kita sering memberikan manfaat pada orang lain, membantu mereka yang susah, dsb, kira-kira apa Allah akan tinggal diam begitu saja? Saya kira tidak. Justru Allah akan memperbesar ranah kesuksesan kita agar lebih banyak lagi orang-orang yang akan terbantu. Atau dengan bahasa yang lebih mudah, kita dipercaya untuk menjadi “kepanjangan tangan” Allah di muka bumi untuk membagikan rahmat dan berkatnya.
Jadi, bagaimana dengan visi sukses dalam setiap doa yang Anda panjatkan? Sudahkah Anda memberi alasan yang tepat kenapa Allah harus mengabulkan itu? Dan ingat, Allah tidak bisa dibohongi. Kita bisa saja koar-koar kalau sukses akan banyak membantu orang, tapi Allah Maha Tahu apa yang ada di hati kita.
Semoga renungan ini bermanfaat untuk Anda dan saya pribadi juga. Mari sama-sama saling mengingatkan, mari luruskan niat dan jadilah sebaik-baiknya manusia. sumber : http://ariefmaulana.com
Salam Sukses,
arief maulana

Kamis, 15 Juli 2010

Johnny Sardjanto, Corporate Trainer yang Sukses Tanpa Gembar-gembor

Johnny Sardjanto, Corporate Trainer yang Sukses Tanpa Gembar-gembor



Di mata banyak direktur SDM di perusahaan BUMN dan perusahaan multinasional, sosok Johnny memang tak asing lagi. Lewat PT Pinastika Sasura, jasa Johnny dicari perusahaan-perusahaan besar yang ingin memompa motivasi dan kinerja karyawannya. Lembaga pelatihan yang didirikan Johnny pada 1991 itu populer dengan paket pelatihan yang disebut Peningkatan Karya Prestatif (PKP).
Hingga kini, Johnny mengklaim, lebih dari 24 ribu orang pernah ikut pelatihannya. Sederet kliennya dari kalangan swasta, misalnya Riau Pulp & Paper, Asian Agri, PT Bukit Makmur Mandiri Utama (pertambangan batu bara), PT Aplikanusa Lintasarta (TI dan telko), Banpu Group (pertambangan), Freeport Indonesia (pertambangan), Koba Tin, Multi Bintang Indonesia, Pama Persada Nusantara (Grup Astra), Grup Bakrie, dan sederet nama lain. Sementara klien dari BUMN, sebut contoh Aneka Tambang, Indosat, Jasa Marga, Telkom, Kimia Farma, Jasa Marga, Semen Gresik, Pupuk Kaltim, PTPN, dan Perusahaan Gas Negara.
Masing-masing perusahaan ini bisa mengirimkan ratusan sampai ribuan karyawan (dalam beberapa angkatan) untuk mengikuti pelatihan yang disuguhkan Johnny. Sebagai contoh, Banpu Group. Raksasa pertambangan asal Thailand yang di Indonesia punya lima perusahaan tambang besar ini mengirimkan lebih dari 2.000 karyawannya.
Keberhasilan Johnny ini dibangun lewat perjalanan hidup yang cukup berliku. Kakek Johnny salah satu orang terkaya di Yogyakarta-Jawa Tengah dan dikenal sebagai Raja Berlian. Namun, ekonomi keluarganya kemudian jatuh ke titik terendah. Bahkan, Johnny sempat menjadi sopir angkot. Ia beruntung, mendapatkan beasiswa belajar hingga kemudian bisa berkarier di beberapa BUMN (PT Rekayasa Industri, Pupuk Kujang, Pusri, dan Pupuk Iskandar Muda), Departemen Perindustrian, dan Sekretariat Negara. Ia pun pernah mendapatkan berbagai penghargaan atas pretasinya. Ia mengaku membantu berdirinya PT Pupuk Iskandar Muda. Johnny memang punya keahlian di bidang produktivitas kerja, sehingga jasanya amat dibutuhkan pemerintah yang waktu itu tengah gencar membangun banyak industri.
Tahun 1988, lulusan Teknik Kimia Universitas Diponegoro ini melepaskan statusnya sebagai pegawai negeri sipil karena merasa gajinya tidak cukup untuk membiayai pengobatan anaknya yang sakit. Johnny memilih bergabung dengan dunia swasta, dengan menjadi pengajar di Prasetiya Mulya (tiga tahun). Ia juga sempat bekerja sama dengan Tanri Abeng, yang memberinya modal untuk mendirikan lembaga pelatihan. Ia menemukan momentumnya pada 1991: mengembangkan lembaga pelatihan sendiri (Pinastika) yang berkembang hingga sekarang.
Johnny memosisikan pelatihannya, PKP, sebagai pengembangan soft skill. “Kami fokus di attitude training. Yang kami sentuh adalah jiwa manusia, bukan otaknya,” tuturnya bersemangat. Metodenya adalah berusaha merontokkan keyakinan-keyakinan lama peserta, dinolkan dan kemudian diganti dengan keyakinan baru yang kondusif bagi peningkatan kinerja karyawan.
Bila kita perhatikan, kunci sukses Johnny tampaknya terletak pada strateginya yang fokus. Dari sisi kepesertaan, misalnya, Johnny bukan tipikal pengelola lembaga pelatihan yang mengejar jumlah peserta besar (massal). “Kelas saya maksimal 75 orang dan minimal 35 orang karena saya harus mengenal dengan baik tiap peserta,” ungkapnya. Ia juga memfokuskan lembaganya itu sebagai penyedia jasa in-house training. Jadi, setiap event pelatihan yang digelar kepesertaannya pasti berasal dari satu lembaga/perusahaan. “Kalau ada peserta dari perusahaan lain biasanya cenderung akan ada defence mechanism, perasaan canggung, dan sebagainya.”
Menurut pria kelahiran Solo 1952 ini, cara tersebut juga dilakukan karena pelatihannya bersifat tailor-made, sesuai dengan kebutuhan perusahaan klien. “Model dan materi training seperti apa tergantung pada hasil wawancara saya dengan manajemen perusahaan itu, mereka hendak membentuk karyawannya ke arah mana,” katanya menjelaskan. Contohnya, meski sama-sama perusahaan pertambangan, jika kultur dan problemnya berbeda, materi dan metode pelatihannya akan berbeda. Selepas pelatihan, Johnny akan membuat laporan peta SDM dari peserta dan hal-hal yang harus dilakukan perusahaan klien bila ingin meningkatkan kinerja mereka.
Budikwanto Kuesar, Direktur Pengelola Grup Bukit Makmur yang bergerak di bisnis kontraktor pertambangan dan punya 7 ribu karyawan, mengakui perusahaannya biasa menggunakan jasa Johnny untuk mendongkrak kinerja karyawannya. Langkah ini memang inisiatif Budi yang pernah duduk sebagai Direktur Operasional Pama Persada dan pernah bekerja sama dengan Johnny. “Dari pengalaman kami, training-nya efektif dan menancapnya ke hati karyawan lebih lama. Apalagi, setelah training selalu diadakan follow-up dengan alumni agar hasilnya benar-benar efektif,” ucap Budi mengungkap pengalamannya.
Selama ini, Johnny mengaku hampir tak pernah berpromosi, kecuali mengandalkan getok tular (word of mouth) dari peserta lama. “Saya belum pernah pasang iklan, Mas. Dengan begini saja kami kewalahan memenuhi undangan training, karena harus kami sendiri yang melakukannya,” ujar bapak tiga anak yang sekarang lebih suka berinvestasi di bidang properti ini.
sumber : www.swa.co.id

Rabu, 14 Juli 2010

Perbuatan Baik Tidak Pernah Sia-Sia

Al kisah ada seorang dermawan yg berkeinginan untuk berbuat kebaikan.
Dia telah menyiapkan sejumlah uang yang akan dia berikan kepada beberapa orang yang ditemuinya.
Pada suatu kesempatan dia bertemu dengan seseorang maka langsung saja dia menyerahkan uang yang dimilikinya kepada orang tersebut. Pada keesokan harinya tersiar kabar bahwa ada seseorang yang telah memberikan sejumlah uang kepada seorang penjahat beringas. Mendengar kbr ini si dermawan hanya mengatakan” Ya Tuhan aku telah memberikan uang ke pada seorang penjahat”
Di lain waktu, dia kembali bertemu dengan seseorang, si dermawan pada hari itu juga telah berniat untuk melakukan kebaikan. Ia dengan segera memberikan sejumlah uang kepada orng tersebut. Keesokan harinya tersiar kabar bahwa ada seseorang yang telah memberikan uang kpd seorang koruptor. Mendapat kabar ini si dermawan hanya berkata “Ya Tuhan aku telah memberikan uang kepada koruptor”.
Si dermawan ini tidak berputus asa, ketika dia bertemu dengan seseorang dengan segera dia menyerahkan sejumlah uang yang memang telah disiapkannya. Maka esok harinya pun tersiar kabar bahwa ada seseorang yang telah memberikan sejumlah uang kepada seorang kaya raya. Mendengar hal ini si dermawan hanya berkata. ” Ya Tuhan aku telah memberikan uang kepada penjahat, koruptor dan seorang yang kaya raya”.
Sekilas kita bisa menyimpulkan bahwa si dermawan ini adalah seorang yang “Ceroboh” Asal saja dia memberikan uang yang dimilikinya kepada orang yang tidak dikenalnya, padahal jika dia  lebih teliti maka niat baik nya itu bisa lebih berguna tersalurkan kepada orang yang memang membutuhkan.
Tapi ternyata suatu niat yg baik pasti akan berakhir dengan baik, pun begitu pula dengan “kecerobohan” si dermawan.
Uang yg diberikannya kepada sang penjahat ternyata mampu menyadarkannya bahwa di dunia ini masih ada orang baik, orang yg peduli dengan lingkungan sekitarnya. Penjahat ini bertobat dan menggunakan uang pemberian sang dermawan sebagai modal usaha. Sementara sang koroptor, uang cuma-cuma yg diterimanya ternyata menyentuh hati nuraninya yang selama ini telah tertutupi oleh keserakahan, dia menyadari bahwa hidup ini bukanlah tentang berapa banyak yang bisa kita dapatkan. Dia bertekad mengubah dirinya menjadi orang yang baik, pejabat yang jujur dan amanah. Sementara itu pemberian yg diterima oleh si kaya raya telah menelanjangi dirinya, karena selama ini dia adalah seorang yg kikir, tak pernah terbesit dalam dirinya untuk berbagi dengan orang lain, baginya segala sesuatu harus lah ada timbal baliknya. Dirinya merasa malu kepada si dermawan yang dengan kesederhananya ternyata masih bisa berbagi dengan orang lain.
Sahabat, tak akan ada yang berakhir dengan sia-sia terhadap sutau kebaikan. Karena kebaikan akan berakhir pula dengan kebaikan. Hidup ini bukanlah soal berapa banyak yang bisa kita dapatkan, tapi berapa banyak yang bisa kita berikan.
Rangga Prayuda